DPR Dorong Teknologi Digital untuk Warisan Budaya

JAKARTA – Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay, menyatakan bahwa warisan budaya Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk kreatif dengan memanfaatkan teknologi digital. Langkah ini memungkinkan produk budaya menjangkau pasar yang lebih luas dan menarik perhatian masyarakat.
“Jadi bagaimana bagusnya pun warisan budaya itu kalau tidak dipromosikan secara baik, tidak dinarasikan dengan benar orang nggak akan tertarik kan, karena nggak akan ngerti apa nilai budaya yang terkandung di dalamnya karena itu kita harus mengembangkan pola pengembangan sosialisasi ini melalui teknologi digital sehingga bisa menjangkau lebih luas,” kata Saleh, Senin (9/12/2024)
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar produk kreatif Indonesia, termasuk warisan budaya, adalah persaingan dengan budaya negara lain di pasar global. Dalam dunia digital, setiap orang dapat memasarkan produknya, dan masyarakat akan menentukan mana yang layak dikembangkan atau dijadikan tujuan wisata.
Untuk memenangkan persaingan ini, Saleh menekankan pentingnya memperbaiki strategi promosi dan memanfaatkan teknologi digital guna meningkatkan daya saing. Selain itu, ia juga menyoroti keterbatasan modal yang masih menjadi kendala bagi pelaku ekonomi kreatif, sehingga menghambat mereka untuk berkembang di pasar lokal maupun internasional.
“Ini yang harus di-support oleh pemerintah. Pemerintah harus melihat mana di antara warisan budaya yang potensial untuk dikembangkan dan dimodali, dari sisi apanya yang harus dimodali, kemudian mereka harus ikut juga membina usaha ini kalau bisa dikasih modal supaya jangan rugi bagaimana,” jelas Saleh.
Saleh menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia yang terlibat dalam produksi warisan budaya. Ia mencatat bahwa sering kali keterampilan dalam menciptakan produk kreatif berbasis budaya tidak menjadi pekerjaan utama bagi pelakunya.
Oleh karena itu, Saleh berharap di masa depan, individu dengan keahlian khusus di bidang kreatif, terutama dalam pelestarian warisan budaya, dapat fokus dan serius mengelola serta menjalankan bisnis tersebut sebagai profesi utama.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi. Tidak hanya pemerintah dan masyarakat yang perlu berperan aktif melalui pembinaan, tetapi juga kerja sama dengan lembaga internasional yang memiliki komitmen untuk mendukung budaya lokal. Melalui kolaborasi ini, warisan budaya Indonesia dapat dipromosikan di panggung internasional, memberikan peluang lebih luas bagi pengembangan dan pengakuan budaya lokal.
“Mereka juga harus berkolaborasi dengan lembaga-lembaga internasional yang melakukan kegiatan-kegiatan internasional, jadi sesekali kita bisa tampil di luar internasional. Katakanlah Reog Ponorogo kan bisa ditampilkan di Eropa, dijaga komunikasi dan kerja sama itu sehingga ini bukan hanya tampil di daerah tapi juga dibawa ke luar negeri,” kata Saleh
Ia juga berharap adanya kerja sama dengan perusahaan-perusahaan swasta besar di Indonesia untuk ikut mengembangkan potensi warisan budaya lokal.





